Monday, December 23, 2013

BiC : Chapter 2 *Old Version*

Title : Big is Cute

Author : Gemini Slacker

Pairing : Bakal ada pairing CanonxCanon, tapi untuk (Nama) belum ada. Jadi silahkan berikan suara kalian pada para bishounen KHR! pilihan kalian untuk (Nama)!

Genre : HUMOR…Humor…Romance…HUMOR! XDD

Rating : Mari berdoa semoga untuk selamanya rantingnya tetap T…?

Summary : (Nama) adalah gadis yang memiliki tubuh gemuk. Karena tubuhnya ini lah yang membuatnya berpikir kalau tidak ada pria yang bakal jatuh cinta padanya. Akan tetapi, sepertinya orang-orang yang sekitarnya justru berpikir sebaliknya.

Warning : Gajelas, tapi yang jelas (mungkin) banyak TYPO dan adanya OOC. Kalo nggak suka silahkan mencet tombol back.

Disclaimer : Gemini Slacker tidak memiliki KHR! Gemini Slacker hanya mengklaim ide fanfic ini.

(─‿‿─) Big is Cute (─‿‿─)

Mini-chan Note:

Wellcome to Big 2! Btw, sedikit info mengenai judul kisah ini, saat pembuatan kisah ini Mini-chan teringat sama sinetron Big is Beautiful yang tokoh utamanya sama gemuk dengan (Nama) (kalau gak salah, tokoh utamanya bernama Kimi (kalau tidak salah, loh!)). Mungkin, tanpa sadar Mini-chan mengambil judul cerita ini dari sinetron itu. Secara, BiB adalah salah satu sinetron yang paling Mini-chan sukai dan merupakan sinetron yang terakhir Mini-chan tonton dengan full attention :P.

~Big 2~

"Ibu, jangan seenaknya saja memutuskan untuk pindah kewarganegaraan hanya untuk bertemu Ayah, dong!" Protesmu kesal kepada Ibumu A.K.A Mammy-mu sambil menggebrak meja makan.

Ya, kamu sangat kesal dengan sikap Ibumu yang suka seenaknya saja mengambil keputusan tanpa berunding dengan keluarganya (anak-anaknya) terlebih dahulu. Walaupun, sejak masih kecil kamu sudah mengetahui kebiasaan buruk Ibumu, tapi saat itu tindakannya masih bisa kamu toleransi. Akan tetapi, kali ini kamu sama sekali tidak bisa menerima tindakannya.

Secara, siapa yang tidak kesal dengan tindakannya yang tiba-tiba muncul di tengah pelajaran untuk menjemputmu dan mengatakan kalau kamu tidak perlu belajar lagi di sekolahmu, karena dirimu dan keluargamu akan segera pindah. Dan pindahnya pun, bukan istilah pindah ke kota atau daerah lain yang masih dalam satu lingkung Negara tempat dirimu di lahir dan di besarkan, Tapi pindah ke Negara lain yang membutuhkan waktu 7 jam perjalanan dengan menaiki pesawat.

"Memangnya kenapa? Demi cinta, mammy akan mengejar Daddy-mu, walaupun harus mengganti kewarganegaraan di Kutub Selatan sekalipun." Kata Ibu-mu dengan santainya dan tidak peduli dengan kekesalan mu. "Oh, dan berhenti memanggilku Ibu. Panggil aku Mammy dan panggil Daddy-mu dengan Daddy, (Nama)." Tambahnya sebelum memakan kare yang dibuat adik laki-lakimu sebagai makan malam pertama tiba di jepang.

"Mammy, Kutub Selatan bukan Negara. Dan Kakak, kita belum secara resmi menjadi warga Jepang. Kita masih butuh waktu 5 tahun lebih untuk tinggal di jepang sebelum mengajukan diri menjadi warga Negara di Jepang." Kata Adikmu dengan tenangnya. "Lagipula, Mammy. Kakak hanya mengkhawatirkan soal pekerjaan Mammy yang ada di Indonesia."

"Aku tidak khawatir dengan itu!" Bentakmu kesal dengan ketidakpedulian adikmu satu-satunya dengan kondisi yang sedang terjadi di sekitarnya.

"Ah, putra kecilku. Tadi hanya sebuah perumpamaan, saja." Kata Ibumu sambil mengelus rambut (Warna Rambut) adikmu. "Lalu soal pekerjaan Mammy, Kau tidak usah cemas, (Nama). Mammy sudah mendapatkan pekerjaan dari Timoteo-san."

"Huh? Siapa dia?" Tanyamu bingung.

"Aduh, benar juga. Terakhir kamu bertemu dengannya waktu umurmu 6 tahun. Jadi, wajar saja, kalau kamu sudah lupa mengenainya." Kata Ibumu sambil mengingat terakhir kali Kamu bertemu dengan orang bernama Timoteo. "Timoteo-san adalah pendiri sekaligus pemimpin perusahaan Vongola tepat ayahmu bekerja." Katanya menjelaskan padamu. "Sejak pertama kali Daddy-mu bekerja di Vongola, Daddy-mu dan Timoteo-san langsung akrab. Lalu, berkat Timoteo-san 'lah Daddy-mu tidak mengalami kesulitan dalam mengurus segala urusan yang kita butuhkan untuk tiba di sini, seperti mendaftarkan kalian berdua ke sekolah dan memberikan pekerjaan pada Mammy. Jadi kamu tidak usah cemas, (Nama)."

"Tapi, aku 'kan hanya punya nilai pas-pasan, mana bisa sekolah di jepang yang pada dasarnya butuh nilai sekolah yang tinggi. Belum lagi, ada ujian masuk yang super sulit." Katamu kesal. "Lagipula, mana ayah yang menjadi penyebab semua ini?"

"Daddy-mu masih sibuk dalam beberapa minggu ke depan. Jadi, dia tidak bisa menemui kita. Akan tetapi, dia akan sering menelepon." Kata Ibumu mengenai ayahmu. "Lalu, soal sekolah kamu tidak perlu cemas. Kamu sudah diterima di SMA Namimori, sedangkan (Nama Adik) juga sudah diterima di SMP Namimori yang tidak jauh dari sekolahmu. Bahkan, kalian berdua lulus ujian masuk dengan nilai tinggi." Katanya riang sambil memperlihatkan surat hasil tes masuk SMP dan SMA Namimori yang bertuliskan namamu dan nama adikmu serta surat penerimaan masuk sekolah.

"EH?! SEJAK KAPAN?! AKU TIDAK INGAT MENGERJAKANNYA!" Teriak mu tidak percaya sambil melihat kedua kertas yang membuktikan kelulusanmu masuk ke sekolah. 'Memangnya kapan aku mengerjakan tesnya. Mustahil kalau aku tidak sadar mengerjakannya.' Pikirmu sambil berusaha mengingat kapan kamu mengerjakan tes masuk sekolah.

"Oh, soal itu. Apa kau masih ingat saat Eri-sensei yang merupakan guru bahasa jepang mu, memberikan disket berisi kumpulan contoh soal ujian masuk SMA di jepang?" Tanya Ibumu yang membuatmu mengangguk pelan setelah mengingat kejadian sekitar sebulan yang lalu.

"Sebenarnya itu adalah Tes masuk SMA Namimori yang Mammy minta pada Kepala sekolahmu." Kata Ibumu yang membuatmu syok.

"Ba-ba-bagaimana bisa?" Tanyamu dengan penuh keterkejutan.

"Mudah saja, Mammy tahu kalau kamu tidak bakal setuju pergi ke jepang. Jadi, Timoteo-san memberikan ide untuk membuat skenario dengan meminta temannya yang merupakan Kepala Sekolah di SMA Namimori untuk mengirim seseorang ke sekolahmu dengan berpura-pura mengadakan penelitian mengenai perkembangan pendidikan murid SMA di Indonesia. Dan secara sekolahmu adalah salah satu sekolah bergengsi di Indonesia, jadi tidak ada yang curiga, deh." Kata Ibumu yang membuatmu syok tidak percaya.

'Jadi sejak sebulan yang lalu Ibu sudah merencanakan untuk menipuku?' Pikirmu syok. Akan tetapi, kemudian kamu kembali teringat sesuatu yang penting. "Tunggu dulu! Waktu itu, Eri-sensei memberikan kumpulan soal itu sebagai tugas rumah pada semua murid kelas 2. Bukannya seharusnya ada murid lainnya yang ikut diterima? Dan yang lebih penting, bagaimana bisa aku diterima padahal aku mengerjakan soal ujian di rumah dalam waktu 3 hari? Bukankah itu curang namanya?"

"Aduh, tanyanya satu-satu, dong. Yah, tapi aku rasa hal yang wajar jika kau bertanya seperti itu, sih." Kata Ibumu sambil menghela nafas. "Dengar! Alasan kenapa kau bisa diterima adalah karena disket itu telah di isi juga dengan program yang merekam pergerakan siswa saat mengerjakan soal tersebut melalui webcam komputer. Jadi, pada saat pemeriksaan jawaban, kita bisa mengetahui apa murid yang mengerjakan soal tersebut menyontek atau tidak." Katanya menjelaskan padamu yang membuatmu semakin syok kesekian kalinya hari ini. "Dan yang paling menggembirakan adalah kamu mengerjakan soal tersebut tanpa menyontek ke buku ataupun menyontek pada temanmu. Yah, karena pada dasarnya Mammy tahu kalau kamu itu terlalu malas menyontek pada temanmu atau ke buku, tapi tetap bisa mendapat nilai tinggi. Mammy jadi tidak begitu khawatir."

Mendengar semua yang dikatakan Ibumu membuat dirimu ingin mengamuk dan memarahinya. Akan tetapi, rasa syok yang kamu terima hari ini terlalu banyak dan membuat otak mengalami tekanan. Hal ini yang membuat susahnya otakmu untuk memberikan perintah pada tubuhmu sesuai keinginanmu. Jadi, saat ini kamu hanya bisa untuk menggerakkan tubuhmu agar bisa menjauh dari Ibumu dengan pergi menuju kamar barumu di lantai dua tanpa mempedulikan panggilan Ibumu yang menyuruhmu untuk menghabisi makan malammu yang belum kamu sentuh sedikit pun.

Ketika kamu sampai di kamarmu, kamu langsung menjatuhkan tubuhmu di kasur dan membenamkan kepalamu ke atas bantal untuk meredamkan teriakkan amarah yang tidak bisa keluar di depan Ibumu.

'Aku sungguh tidak percaya. Ibu menipuku tanpa memikirkan perasaanku. Apa dia tidak berpikir kalau aku adalah putrinya?' Pikirmu kesal sambil berusaha menahan air mata yang hampir keluar dengan menggigit bibir bawahmu.

Kamu tidak tahu seberapa lama kamu dalam kondisi depresi seperti itu, tapi kamu baru tersadar ketika Adik laki-lakimu yang lebih muda 4 tahun darimu menepuk pundakmu dan menyerahkan (Minuman hangat kesukaanmu) padamu yang kamu terima dengan senang hati.

"Maafkan aku, kak." Kata Adikmu setelah beberapa saat terdiam dan membuatmu bingung. "Sebenarnya aku sudah tahu ide Ibu sejak sebulan yang lalu, tapi aku tidak memberitahu mu." Katanya menjelaskan padamu.

"Jangan khawatir. Aku tidak menyalahkanmu. Lagipula, Ibu pasti melarangmu untuk memberitahukannya padaku 'kan?" Katamu pelan sebelum meminum minuman kesukaanmu lagi.

"Ibu memang melarangku. Akan tetapi, bukan itu yang menahanku untuk merahasiakannya dari kakak." Kata adikmu yang membuat bertambah bingung. "Aku merahasiakannya karena aku pikir ini adalah jalan terbaik untuk kakak keluar dari sekolah lama kakak."

"Eh? Kenapa kamu ingin kakak keluar dari sekolah lama kakak?"

"Kenapa kakak pura-pura bodoh?" Tanya adikmu kesal sambil mengerutkan alisnya. "Jangan pikir aku tidak tahu kalau kakak diejek satu sekolahan, kak." Katanya yang membuatmu terkejut dan mulai panik.

Ya, Kamu terkejut dan mulai panik dengan perkataan adikmu yang mengetahui rahasia yang selama ini kamu tutupi dari keluargamu selama 2 tahun ini. Secara kamu pada dasarnya punya sifat untuk tidak merepotkan keluargamu dalam masalahmu yang mengakibatkan kamu menyimpan semua masalahmu sendirian. Dan sialnya, saat ini adikmu mengetahui masalahmu dan ada kemungkinan Ibumu juga mengetahui hal ini.
Mungkinkah hal ini yang menyebabkan Ibu mu memutuskan untuk membawa mu ke Jepang?

'Tidak. Aku rasa Ibu tidak tahu. Kalau dia tahu, Ibu pasti sudah memprotes pada pihak sekolah.' Pikirmu yang berusaha menenangkan dirimu sendiri.

"(Nama Adikmu), dari mana…kamu mengetahui hal itu?" Tanyamu dengan gugup.

"Kakak masih ingat kejadian di mana aku kena skors karena berkelahi dengan teman sekelasku?"

"Tentu saja. Mana mungkin aku lupa dengan kejadian di mana kamu berkelahi hanya karena kau benci pada temanmu itu." Gerutu mu kesal sambil mengingat kejadian di mana kamu mendengar dari ibumu mengenai adikmu yang terkenal tidak pernah mencari masalah dan menjadi anak kesayangan guru malah berkelahi dengan alasan konyol dan mengakibatkan jatuhnya nama baiknya.

"Sebenarnya alasan aku membenci dia adalah karena dia menghinamu, kak." Kata Adikmu yang membuatmu terkejut dan bingung. "Waktu itu, aku mendengar dia mengobrol kepada temannya soal kakak. Sepertinya, kakaknya adalah salah satu teman sekelas kakak dan kakaknya itu menceritakan hal yang buruk mengenai kakak pada keluarganya." Katanya menjelaskan. "Aku tidak tahan mendengar si brengsek itu menghina kakak tanpa mengenal kakak. Jadinya aku menghajarnya biar dia tahu rasa." Geramnya kesal sambil mengepalkan tangannya keras-keras yang membuat ujung kukunya memutih.

"Jadi…kamu berkelahi…dengan temanmu untuk membelaku?" Tanyamu dengan tidak percaya. Karena ternyata penyebab selama ini adikmu berkelahi untuk pertama kalinya adalah karena dirimu. Mendengar hal ini membuatmu bersalah, tapi disatu sisi kamu senang dan terharu karena ada orang yang membela mu untuk pertama kalinya.

"Tentu saja. Aku mungkin terlihat tidak pedulian, tapi bukan berarti aku bisa membiarkan anggota keluargaku dihina seperti itu." Kata Adikmu kesal dengan muka memerah. Karena untuk pertama kalinya dia mengatakan hal seperti itu. "Lagipula, kakak tidak pantas dihina hanya karena kakak memiliki tubuh sedikit besar dari yang lain. Aku juga tahu penyebab kakak selalu mendapat nilai dibawah 75 karena takut kena sial."

"(Nama Adik)…" Gumammu yang sedikit terharu dengan pernyataan yang keluar dari mulut adikmu sebelum kamu teringat sesuatu. "Tunggu, dari mana kamu tahu soal nilai itu?" Tanyamu penuh curiga sambil menatap adikmu dengan teliti yang mulai mengeluarkan keringat.

"Buku Harian…" Kata adikmu pelan yang nyaris tidak terdengar olehmu, jika saja kau tidak memasang telingamu.

"KAMU MEMBACA BUKU HARIANKU!?" Bentak mu kesal karena adikmu berani menyentuh barang privasimu dan membacanya.

"Huh, itu salahmu sendiri kenapa tidak menyembunyikannya dan tidak memakai buku harian yang ada gemboknya." Kata adikmu sebelum lari keluar dari kamarmu yang membuatmu bertambah kesal.

"Walaupun begitu, seharusnya kamu tidak membacanya! Dasar anak bandel! Kamu harus dihukum!" Bentak mu sambil berlari mengejar adikmu.

Yah, itulah malam pertamamu di Jepang. Kamu menghabiskan malammu dengan bermain kejar-kejaran dengan adikmu sampai akhirnya Ibumu yang sudah bosan melihat permainan 'Tom and Jerry' yang dimainkan oleh dirimu dan adikmu, memutuskan untuk melerai kalian berdua dan menyuruh kalian untuk segera tidur.
Sebelum kamu tertidur kamu masih bertanya-tanya arti nilai sempurna dari tes matematikamu ada hubungannya dengan ini semua.

"Aku harap kesialanku tidak akan timbul di sekolah baruku." Gumam mu penuh harap sebelum tertidur lelap.

Tanpa sepengetahuanmu, harapanmu tidak akan terkabul oleh yang maha kuasa. Akan tetapi, sang maha kuasa tahu kamu bakal menyukai kesialan mu kali ini.

.
..
TBC
..
.

Mini-chan Note : Hm, sepertinya cara (Nama) bisa sekolah di SMA Namimori agak sedikit aneh (jika tidak konyol). Tapi, aku harap kalian masih bisa menerimanya dan menyukai Chapter ini. Setelah ini, aku akan membuka daftar Nama karakter KHR! Yang bisa dijodohkan dengan (Nama). Jadi, bersiaplah menyiapkan suara kalian untuk melakukan Voting. Bye-bye~.

Publish di FFN : Mini-chan lupa kapan tepatnya ini di Publish. kalau tidak salah antara bulan juni atau juli?

No comments:

Post a Comment