Sunday, December 22, 2013

BiC : Chapter 1 *Old Version*

Hallo, semuanya! jumpa lagi dengan Mini-chan. kali ini Mini-chan mengposting Chapter lama dari Big is Cute. BiC adalah fanfic Reader insert yang Mini-chan buat dan publish di FFN.Net.

Mungkin kalian bertanya kenapa Mini-chan mengpost chapter lama dari fanfic ini, maka alasannya adalah karena dichapter lama ini, Mini-chan menggunakan sudut pandang orang kedua yang pada dasarnya di FFN, fanfic seperti ini tidak diperbolehkan dipublish di sana.

Karena hal ini juga, Mini-chan berniat mengedit chapter lama dengan chapter yang baru yang menggunakan sudut pandang yang umum dipakai [sudut pandang orang pertama dkk] agar bisa diterima di FFN.

Akan tetapi, Mini-chan pikir rasanya sayang jika menghilangkan chapter yang lama, yang merupakan awal dari kisah ini. Jadi, Mini-chan mempublishnya di sini. Nah, sekarang. silahkan membaca Chapter lama dari BiC. Ciao.


Author: Gemini Slacker

Pairing : Bakal ada pairing CanonxCanon, tapi untuk (Nama) belum ada. Jadi tolong bantuannya, nya!

Genre : HUMOR…Humor…Romance…HUMOR! XDD

Rating : Mari berdoa, semoga untuk selamanya rantingnya tetap T…?

Summary : (Nama) adalah gadis yang memiliki tubuh gemuk. Karena tubuhnya ini lah yang membuatnya berpikir kalau tidak ada pria yang bakal jatuh cinta padanya. Akan tetapi, sepertinya orang-orang disekitarnya justru berpikir sebaliknya.

Warning : Gajelas, tapi yang jelas (mungkin) banyak TYPO dan adanya OOC. Kalo nggak suka silahkan mencet tombol back.

Disclaimer : Gemini Slacker tidak memiliki KHR! Gemini Slacker hanya mengklaim ide fanfic ini.

AN : Sejujurnya aku kurang yakin untuk menyebut ini sebagai reader insert. Secara aku masih mengontrol ukuran tubuh… *mendesah* aku hanya berharap kalian masih mau membaca fanfic ini dan tidak lupa memberikan Review.

(≧◡≦) Big is Cute (≧◡≦)

~Big 1~

SMA Swasta Elit A, Kelas XI IPA I

"Sebelum pelajaran dimulai, Bapak akan membagikan hasil tes dari minggu lalu." Kata Pak Amir yang merupakan guru matematika sekaligus wali kelasmu sambil mengeluarkan kumpulan kertas nilai ujian dari dalam tasnya.

"Eh, pasti si gendut dapat nilai terendah lagi, deh." Bisik seorang murid perempuan yang duduk tidak jauh darimu kepada teman sebangkunya sambil melihatmu dengan pandangan mengejek.

"Hah, itu si bukan pasti lagi. Dia memang tidak pernah mendapat nilai lebih dari 75 di setiap mata pelajaran." Jawab temannya sambil melihat ke arahmu juga dan berusaha menahan tawanya.

"Oi, hentikan mengejeknya. Nanti dia marah dan meledakkan tubuhnya yang besar seperti bom itu dan kita bakal kena sial." Kata murid laki-laki yang duduk tidak jauh dari kedua murid perempuan yang mengejekmu.

"Ya, aku juga setuju dengannya. Aku sudah repot dengan mencium bau menyengat dari si gendut itu. Jadi, tolong jangan sampai ditambah lagi, deh." Keluh salah satu murid laki-laki lainnya yang menyebabkan sebagian murid yang mendengarnya jadi berusaha menahan tawa agar tidak ketahuan Pak Amir.

'Mungkin aku gemuk dan tidak pintar, tapi setidaknya aku ini masih punya otak untuk tidak bersikap seperti sampah.' Gerutu mu dalam hati sambil memutar matamu dengan apa yang kau dengar dari perkataan para teman sekelasmu yang tidak tahu diri.

'Ini sungguh menyebalkan. Mentang-mentang aku ini punya tubuh tergemuk dan memiliki nilai standar di sekolah ini, bukan berarti aku boleh di jadikan objek pelampiasan penghinaan seperti ini.' Pikirmu kesal sambil melihat ke luar jendela. 'Apa aku tidak bisa mendapatkan teman yang tidak memandang bentuk fisikku dan kemampuan otak?' tanya mu sambil melihat langit dengan penuh harap.

"(Nama Depan) (Nama Belakang)" Panggil Pak Amir yang sontak membuatmu kaget dan terburu-buru berdiri dari kursimu yang menyebabkan kursimu terjatuh ke lantai.

"Oi, hati-hati gendut! Nanti sekolah ini terkena gempa gara-gara kamu." Seru salah satu murid laki-laki lainnya yang membuat seisi kelas jadi penuh suara tawa.

"Hentikan kalian semua!" Bentak pak Amir sambil memukul mejanya dengan keras. "Tak bisa 'kah kalian berhenti mengejek (Nama)?!"

"Kami tidak mengejeknya Pak. Kami hanya menggodanya saja." Jawab murid yang lainnya yang di setujui murid lainnya.

'Ya, ya. Terserah kalian semua, deh.' Gerutu mu dengan kesal dalam hati sambil membetulkan kursimu dan menuju ke Pak Amir untuk mengambil hasil tesmu.

"Jangan diambil hati perkataan mereka, (Nama)." Kata Pak Amir yang berusaha menghiburmu. "Lagipula, kali mereka tidak akan lagi menghinamu, ketika mengetahui kalau kamu mengalahkan mereka semua dalam tes kali ini." Tambahnya yang membuat kau dan semua teman sekelasmu keheranan.

"Huh, apa maksud Bapak?" Tanyamu dengan penuh tanya dan mulai merasakan firasat buruk.

"Dites kali ini kau mendapatkan nilai paling sempurna di kelas, (Nama). Kamu mendapat nilai 100." Kata Pak Amir yang membuat semua orang syok mendengarnya, termasuk kamu sendiri. secara ujian minggu lalu adalah ujian tersulit yang ada sampai saat ini.

"Pak, apa gak salah? Masa si gendut mendapat nilai sempurna?! 'Kan biasanya dia lebih sering mendapat nilai 75 ke bawah dalam pelajaran Bapak." Protes salah satu teman sekelasmu.

"Benar Pak? Apa Bapak yakin si gendut ini tidak nyontek?"

"Tentu saja Bapak yakin. Apa kalian semua lupa kalau Bapak adalah guru paling keras dalam mengawasi ujian?" Bentak Pak Amir yang membuat semua murid tidak berani memprotes lagi. Secara apa yang dikatakannya memang benar, walaupun Pak Amir sudah berusia 53 tahun, dia terkenal sebagai guru paling killer di antara semua guru di sekolahmu. Bahkan saking killer-nya, Pak Amir merupakan guru pengawas paling sibuk mengawasi peserta ujian ketika ujian penting diadakan, seperti ujian semester ataupun pas UN.

'Gawat, aku dapat nilai di sempurna di ujian Matematika! Ini mustahil, padahal aku mengerjakan tes ini kan tanpa belajar sama sekali dan aku juga mengerjakannya dengan asal-asalan.' Pikirmu dengan penuh ketidakpercayaan dan tidak peduli dengan perbincangan antara teman sekelasmu dengan Pak Amir. 'Tunggu, jika aku dapat nilai sempurna dalam pelajaran terutama dalam pelajaran Matematika, itu artinya mulai hari ini ada kemungkinan aku akan mendapatkan kesialan tanpa henti?!' Pikirmu ketakutan.

"Pak Amir, tolong segera ubah nilaiku sejelek mungkin! Ah, tidak. Tolong ubah menjadi Nol!" Mintamu dengan penuh harap, panik, cemas, horor yang bercampur jadi satu.

Mendengar permintaanmu membuat semua orang bengong keheranan dan syok. Secara ini pertama kalinya dalam sejarah yang ada di dunia, ada orang yang mendapatkan nilai sempurna dalam matematika, tapi malah minta diubah menjadi nilai nol. Akan tetapi kamu sama sekali tidak peduli dengan tatapan yang kamu terima dari semua orang. Secara saat ini yang ada di kepalamu adalah mengubah nilai sempurna yang kamu dapatkan menjadi jelek. Mengingat kamu memiliki kemiripan nasip dengan Tsunade dari Manga Naruto yang di mana jika Tsunade menang berjudi maka itu artinya dia akan mendapatkan kesialan, sedangkan untuk dirimu, kamu akan mendapatkan kesialan jika mendapat nilai mata pelajaran di atas 75.
Yap, hal inilah penyebab utama kamu tidak pernah mendapatkan nilai lebih dari 75. Kamu terlalu takut terkena sial dan parahnya kamu tidak tahu berapa lama kesialan mu akan muncul di hadapanmu. Apa lagi kamu tidak tahu bagaimana menghilangkan kutukan aneh ini. Jadi cara terbaik yang saat ini bisa kamu lakukan adalah terus mendapatkan nilai dibawah angka 75 sampai kamu lulus dari universitas nanti.

"Kenapa malah bengong! Cepat diubah nilainya, kakek tua sialan!" Bentakmu kesal yang membuat semua orang semakin syok. Karena kamu berani memanggil guru paling killer dengan panggilan kakek tua sialan.

"(Nama)~, Mammy datang menjemputmu~." Seru seorang Wanita yang terlihat pertengahan umur 30 tahun yang muncul tiba-tiba di depan pintu kelasmu dengan wajah riang.

Wanita tersebut, memiliki rambut berwarna (Warna Rambut) dan sepasang mata (Warna Mata). Dia memakai setelan jas kantor berwarna (Warna Jas) yang terlihat sangat rapi di tubuhnya yang kurus.

"Huh, ngapain Ibu kemari? Bukannya hari ini bakal pulang larut malam?" Tanyamu keheranan kepada wanita yang merupakan Ibumu yang seharusnya berada di kantornya saat ini.

"Pertama-tama, Mammy sudah ingatkan kamu untuk memanggil Mammy dengan Panggilan Mammy bukan Ibu, (Nama Depan) (Nama Belakang)! Panggilan Ibu terlalu kuno dan ketinggalan jaman." Kata Ibumu A.K.A Mammy-mu yang hanya membuatmu memutar matamu dengan ocehan yang sering kau dengar darinya.

"Kedua, seperti yang Mammy katakan barusan. Mammy datang kemari untuk menjemputmu. Secara malam ini, kita berserta adikmu akan segera berangkat ke jepang dan tinggal di sana selamanya. Jadi hari ini adalah hari terakhir kamu bersekolah di sekolah ini~" Kata Ibumu riangnya.

"EEEEEEEEHHHHHHHHH?!" Teriak semua orang di kelasmu, termasuk dirimu setelah membeku syok mendengar berita yang keluar dari mulut Ibumu.

.
..
^o^ TBC ^o^
..
.

AN : Kasihan (Nama), dia tidak bisa mendapat nilai lebih dari 75. Please Review!

Publish di FFN : 25 Maret 2013 [Akan tetapi di FFN tertulis tanggal 26 Mai sebagai hari Publishnya. Mini-chan tidak tahu siapa yang salah. Gomen! ToT]

No comments:

Post a Comment